Home // Blog // Surat dari Tontowi untuk LiLyana Natsir

Saat itu Juni 2010. Saya bertekad berbicara dengan Kak Richard Mainaky, pelatih ganda campuran, untuk memasangkan saya dengan Greysia Polii. Kami sudah berpasangan selama beberapa bulan dan saya merasa ada chemistry dengannya.

Namun, belum sempat berbicara, Kak Richard berkata saya akan dipasangkan dengan Liliyana Natsir. Saya tak menyangka bakal dipasangkan dengan Liliyana karena masih ada pemain-pemain yang lebih senior daripada saya.

Itu jelas kejutan buat saya. Duet Nova Widianto/Liliyana Natsir adalah idola saya. Saya masih ingat saat menonton mereka melalui televisi di Kejuaraan Dunia 2005. Saat itu saya yang masih aktif bermain di nomor tunggal putra dan ganda putra mulai tertarik untuk bermain di nomor ganda campuran.

Saya dan Liliyana berpasangan di Makau Grand Prix Gold. Meski tak banyak bicara, namun dari pergerakan, cara main di lapangan, Ci Butet (biasa kami menyapa Liliyana) jelas ingin memberikan motivasi. Dia seorang senior yang mau bawa saya juara, padahal itu turnamen sekelas grand prix gold.

Setelah sejumlah turnamen diikuti, saya mendapat kejutan besar ketika Kak Richard mengatakan saya adalah pasangan Liliyana Natsir untuk Asian Games 2010.

belum banyak pengalaman, tapi menggantikan Nova/Butet yang merupakan unggulan pertama. Hasilnya memang tak bagus, kami kalah. Harusnya kami bisa menang, namun saya masih belum punya banyak pengalaman saat itu.

Setelah setahun penuh pertama berpasangan dengan Ci Butet di 2011, gelar bergengsi kami raih di All England 2012. Namun justru setelah itu ada perubahan besar dalam diri saya. Bila di 2011 saya bisa bermain lepas, tak memikirkan menang dan kalah, maka justru setelah juara All England saya merasa jadi terbeban. Main tidak bebas.

Tiba akhirnya saat kami berjuang di Olimpiade 2012. Waktu di Olimpiade kami jadi unggulan dan andalan Indonesia. Saat di semifinal kami jadi satu-satunya wakil Indonesia yang tersisa.

Ada kesempatan untuk menjadi juara karena musuh yang dihadapi itu-itu saja. Namun status wakil satu-satunya yang mungkin jadi beban buat kami. Waktu kalah di semifinal, kami sudah drop luar biasa, drop habis dalam kondisi mental dan fisik.

Saat itu kami bertanding di babak semifinal pada sore hari dan kemudian esok paginya sudah pertandingan perebutan perunggu. Tentu saja kami tak bisa main dengan baik. Saya tak bisa tidur, sudah benar-benar down, banyak pikiran karena kami kalah berarti Indonesia tak mendapat medali emas. Itu pemikiran utama saya dan Ci Butet, karena harapan itu cuma ada kami.

Kami sama-sama drop, merenung masing-masing dan sudah habis. Dalam keadaan kecewa, kami main kacau balau.

Luka di Olimpiade itu membekas hingga berbulan-bulan, tak bisa langsung hilang. Kalah di Olimpiade, dunia serasa kiamat.

Saat masuk ke 2013, kami tetap berpasangan namun belum berani berpikir tentang Olimpiade 2016. Berbeda dengan periode 2010-2012, komunikasi di antara kami lebih lancar di 2013.

 

Kami sukses mempertahankan gelar All England dan kemudian puncaknya menjadi juara dunia 2013. Saat itu kami seolah membuktikan Owi/Butet masih ada dan tak berakhir di Olimpiade 2012.

Di final Kejuaraan Dunia 2013 kami tertinggal 18-20 di gim penentuan. Namun dalam diri saya punya keyakinan ini adalah saatnya kami jadi juara dunia dan tidak ada kata menyerah.

0 Comments ON " Surat dari Tontowi untuk LiLyana Natsir "

Comments are closed.

Contact Us

Contact

Betting Games

© Copyright. All Rights Reserved